Sabtu, 15 Maret 2014

BIDADARA BIDADARA SURGA

 Banyak pertanyaan yg muncul stlh kajian "Bidadari Bidadari Surga" dikirim, terutama dari kaum wanita banyak yg protes.

      "Pria yg masuk surga akan mendapatkan bidadari. Bgmn dgn kaum wanita, Apakah wanita yg masuk surga akan dapat bidadara?"
Tenaaang kita akan kaji sama-sama ya...!!!!

Nabi Saw bersabda: “Di surga tidak ada orang yg membujang (tdk memiliki pasangan)”. (HR. Muslim)

Jadiii...Bagi wanita yg belum memiliki suami di dunia akan dinikahkan oleh Allah dgn pria ahli surga yg dia sukai.

Bagi wanita yg diceraikan oleh suaminya didunia, maka pria ahli surga yg tampan dan berakhlak baik akan menikahinya.

Bagi wanita yg masuk surga akan mendapatkan suaminya sendiri yg didunia apabila diapun masuk surga.

Apabila suaminya tdk masuk surga, maka di sana ada pria ahli surga yg akan memperisterinya.

Bila seorang wanita di dunia mempunyai suami lebih dari satu, ia diberi pilihan utk memilih yg terbaik.

Ummu Salamah bertanya kpd Nabi Saw, “Wahai Rasulullah, salah seorang wanita di antara kami pernah menikah dgn dua, tiga, atau empat laki-laki lalu meninggal dunia. Dia masuk surga dan mereka pun masuk surga pula. Siapakah di antara laki-laki itu yg akan menjadi suaminya di surga?”

Rasul menjawab, “Wahai Ummu Salamah, wanita itu disuruh memilih, lalu ia pun memilih siapa di antara mereka yg akhlaknya paling bagus, lalu dia berkata, ‘Wahai Rabb-ku, sesungguhnya lelaki inilah yg paling baik akhlaknya tatkala hidup bersamaku di dunia. Maka nikahkanlah aku dengannya’”. (HR. Thabrani)

Keluarga shaleh akan berkumpul kembali disurga.

"Mereka dan istri-istri mereka berada dalam tempat yg teduh, bertelekan di atas dipan-dipan". (QS.Yaasiin:56)

"Masuklah kamu ke dalam Surga, kamu dan istri-istri kamu akan digembirakan". (QS.Az-Zukhruf:70)

Jadi kenikmatan surga berlaku umum bagi wanita dan pria yg shaleh.

Akhirnya kebagian juga kaan.
Salam !

YANG TERLARANG SAAT BERZIARAH KUBUR.

DUDUK DI ATAS KUBURAN
“Seseorang dari kalian duduk diatas bara api sehingga terbakar bajunya hingga sampai ke kulitnya lebih baik baginya drpd duduk di atas kuburan”. (HR.Muslim:2/ 667)

MENGINJAK KUBURAN
“Berjalan di atas bara api atau pedang atau menambal sepatu dgn kakiku sendiri, lebih aku sukai drpd aku berjalan di atas kuburan seorang muslim”. (HR.Ibnu Majah no:1283)

KENCING dan BERAK DI KUBURAN
“Dan aku tidak peduli, apakah aku buang air besar di tengah kuburan atau di tengah pasar”. (HR.Ibn Majah no:1273, Muslim no:976)

Artinya, keburukan buang air di kuburan sama dgn buruknya membuka aurat dan buang air besar di tengah-tengah orang banyak di dalam pasar.

BERIBADAH DI KUBURAN
"Jgn jadikan rumah-rumah kalian seperti perkuburan dan jgn jadikan kuburku sebagai tempat perayaan/ibadah/keramaian. Berselawatlah ke atasku krn sesungguhnya selawat kalian akan sampai kepadaku di mana jua kalian berada". (HR.Abu Daud no:2042)

TIDAK BERKATA KEJI danBATHIL.
"Dahulu aku telah melarang kalian dari menziarahi kubur, sekarang berziarahlah dan jgnlah berkata dgn perkataan yg keji dan batil". (HR.Hakim no:1342

Artinya tidak mengobrol ttg hal duniawi dan aib si mayit.

TIDAK BERSANDAR PADA KUBURAN.
"Rasulullah melihat aku bersandar kpd sebuah kubur lalu baginda berkata: “Jgn menyakiti ahli kubur ini". (HR.Ahmad no:20931)

TIDAK MEMBACA AL-QUR'AN DI KUBURAN.
"Jgn jadikan rmh-rmh kalian seperti perkuburan. Sesungguhnya syetan berlari apabila dibacakan al-Baqarah". (HR.Muslim no:1179)

Artinya, Rumah yg tdk dibacakan al-Qur’an umpama perkuburan, maka bacalah al-Qur’an di dalam rumah. Perkuburan bukan tempat membaca al-Qur’an, krn itulah Rasulullah menjadikan perkuburan sebagai perumpamaan rumah yg tdk dibacakan al-Qur’an di dalamnya.

TIDAK MENCELA MAYIT
"Jgn mencela org-org yg sudah meninggal dunia krn mereka sdh sampai kpd apa yg mereka lakukan". (HR.Bukhari no:1393)

Salam !

Kisah Kesabaran dan Kesucan Ayah Imam Syafi’i

 
Suatu hari seorang lelaki muda hendak berangkat mengaji, berjalan menyusuri pinggiran sungai. Tanpa sengaja matanya tertuju pada sebuah buah delima yang hanyut. Delima itu tampak matang dan ranum. Warna merah delima itu menggoda kerongkongan pemuda yang bernama Idris As Syafi’i. Tanpa menunggu lama, dengan sebilah tongkat kayu sambil menginjak tepian sungai, ia mencoba meraih delima ranum tersebut. “Hupp….”

Delima itupun sampai dalam genggaman. Dalam kondisi lapar, tanpa pikir panjang ia langsung meraup delima demi mengganjal perutnya yang keroncongan.
Gigitan demi gigitan delima itu dilahap nikmat. Setengah delima telah masuk ke dalam penggilingan usus, barulah ia bertanya dengan dirinya, “Siapakah pemilik delima ini?
 ” Aku yakin buah ini pasti ada pemiliknya, yang kepadanya aku belum meminta ijin untuk memakannya.” Demikian pertanyaan itu menghentikan gigitan yang masih menempel di mulut.

 “Berarti pula makanan yang masuk kedalam perutku ini tidaklah halal bagiku. Oh Tuhan….Maafkan aku.” Itulah penyesalan yang muncul di dalam hati pemuda Idris.”
Lama dia termenung, teringat ajaran sang guru, bahwa makanan haram yang masuk kedalam badan dan pakaian yang haram yang menutup badan dapat menjadi suatu sebab terhambatnya doa. “Oh Tuhan, ampunilah aku. Bagaimana caraku untuk membersihkan kesalahanku?” Itulah penyesalan yang tiada terbilang memenuhi relung hati sang pemuda beriman, Idris.
Setelah merenung bingung beberapa berselang, akhirnya diperoleh cara untuk menyelesaikannya, “Aku harus mencari pemilik delima, untuk meminta keikhlasan atasnya.” Akhirnya,pemuda IDris menyusuri tepian sungai, berusaha mencari pemilik delima tadi. Delima yang tinggal setengah masih pula di gengang sebagai bukti nanti kalau-kalau sang pemilik meminta kembali.

Cukup panajang ia menyuri sungai itu akhirnya bertemu dengan sebuah perkebunan yang ditumbuhi pohon delima. Memanglah bahwa lokasi kebun itupun menjorok ke sungai. “Dari pohon inilah barangkali delima yang hanyut yang kumakan tadi.” Idris terus mengamati pohon delima yang menempel di dahan-dahan sambil mencocokannya dengan buah delima yang ia makan. Ternyata sama persis.
Setelah ia yakin benar, lantas Idris bertanya untuk mencari pemilik kebun. Bertemulah ia kepada sang pemilik kebun.
Tanpa gusar ia terus berkata kepada orang asing itu, “Maaf pak, saya kesini untuk meminta keikhlasan bapak atas kekhilafan yang telah saya lakukan.” kata Idris membuka pembicaraan.
Lelaki paruh baya yang sudah ditumbuhi uban itu mengerutkan wajah dengan penuh heran. Pemuda asing yang datang ini langsung mengajukan permintaan yang sangat ameh baginya. Permintaan maaf yang diapun tak mengerti arah pembicaraan Idris.

“Apa gerangan yang membuat anda meminta maaf dan keikhlasan, padahal kita baru saja berjumpa?
Saya sangat yakin tak ada kekeliruan diantara kita berdua.” jawab lelaki setengah baya.

“Begini pak. Dijelaskanlah semua permasalahan yang telah menimpa dirinya dari awal hingga pertemuan mereka.
Mendengar penjelasan tersebut, lelaki paruh baya terkejut, “subhanallah”. Bibirnya sontak berujar memuji Allah.

Beberapa saat laki-laki separuh baya itu terdiam terhipnotis oleh akhlaq laki-laki asing yang berada di depannya. “Baru kali ini aku melihat seorang laki-laki yang begitu bersemangat menjaga dan mencegah diri dari dosa, padahal bisa saja ia melupakan perkara itu begitu saja. Tapi laki-laki muda ini sangat aneh, dan jarang kutemui

.” Pak Tua membatin
Lain halnya dengan pemuda itu, Idris justru dilanda kekhawatiran tiada terkira, jangan-jangan Pak Tua tak mau memaafkannya, “Bagaimana, pak, bisakah aku dimaafkan, dan delima yang aku makan diikhlaskan?”
Pak tua lantas memberi jawaban dengan wajah yang dibuat-buat agar menimbulkan keangkeran, “Aku mau menerima maafmu, asal kamu mau menerima persyaratanku.”
“Oh saya mau Pak, apapun persyaratan yang bapak ajukan, aku mau melakukan, asal bapak mau mengikhlaskan, ” sambut Idris berseri-seri, karena melihat peluang untuk dapat diampuni.
“Begini Nak, “kata Pak Tua mulai menjelaskan serius, “Aku punya seorang anak perempuan tunggal yang tuli, bisu, buta dan lumpuh.”

“Lantas?” tanya si Idris penasaran.

“Aku menghendakimu menjandi menantuku, mengawini putriku. Itulah satu-satunya syarat yang kuajukan agar delima yang telah engkau makan dapat aku ihklaskan, “jelas Pak Tua sejelas-jelasnya.
Innalillah,” desis hati si Idris ketika mendengar penjelasan, “Bagaimana mungkin hanya untuk mendapatkan keikhlasan sebuah delima harus aku tebus dengan mengawini wanita cacat segalanya. Apakah cara ini cukup adil?” Kelihatan sekali kening pemuda Idris berkerut, mempertimbangakan dan memikirkan keputusan yang sangat berat.

Pak Tua memperlihatikan pemuda Idris dengan seksama lantas bertanya malah terkesan setengah memaksa, “Bagaimana Nak?” Memang itulah persyaratanku saja.”
Pemuda Idris terdiam, tampak memikirkan dengan begitu mendalam. Sejenak kemudian ia mengangkat wajah, mendesah berat, lantas memberikan jawaban, “Kalau memang hanya cara itu yang bisa membuat Bapak memaafkan kesalahanku maka aku harus menyanggupinya wahai Pak Tua.”
Mendengar jawaban Idris, lelaki paruh baya itu tersenyum bahagia lantas bicara, “Aku ikhlas memberi ampunan, aku harap kau ikhlas menerima persyaratan.”

“Aku ikhlas, “tukas Idris lugas, sambil menyodorkan sebuah jabat tangan.
“Kalau begitu, sebelum aku mengawinkanmu, kupersilakan kau melihat calon istrimu dahulu, Kata Pak Tua, sambil mempersilakan pemuda Idris melihat calon istrinya di ruang tengah. Pemuda Idris segera beranjak, menuju ruang yang ditunjukkan. Dengan tangan sedikit kaku. didorongnya gagang pintu dengan hati berdebar tak menentu karena matanya akan segera menatap calon istri yang cacat segala rupa.
“Bagaimana bentuk wanita calonku ini, yang cacat segalanya, buta tuli, lumpuh, bisu?” Beberapa saat pintu terbuka hampir tak berbunyi. Di lihatnya sorang wanita jelita yang tampaknya sedanga merenda. Hanya dia dan tak ada lagi wanita lainnya. Bingung. Pintu ditutup kembali sam apelannya ketika ia membuka lantas menemui Ayah perempuan. “Pak, aku tak melihat orang lain di dalam sana,kecuali hanya seorang wanita yang sedang merenda.”

Pak Tua tersenyum lantas berujar, “Dialah calon istrimu.”
“Oh Tuhan, bagaimana bisa begitu? Bukankah Bapak tadi menyebut calonku seorang buta tuli, lumpuh, bisu? Sedangkan yang didalam sana seorang wanita yang sangat jelita dengan muka ranum bak delima?

” tanya pemuda Idris setengah tak percaya. Hatinya berdebar kencang.

“Bagini anakku.''Dia memang buta dalam soal melihat kemaksiatan. Dia memang tuli dalam mendengar pembicaraan yang dapat menimbulkan murka Allah. Dia memang bisu untuk mengucapkan makian dan lumpuh karena tidak melangkahkan kakinya ke tempat-tempat maksiat, lokasi berkumpulnya syetan. Dia tak pernah bersentuhan dengan segala kemaksiatan, Itulah yang kumaksud bahwa dia buta, tuli, lumpuh, bisu. Karena itulah, tak ada pemuda yang layak menjadi suaminya kecuali orang sepertimu, yang juga menjaga diri dari segala hal yang berkaitan dengan dosa, haram, dan kemaksiatan.
Merekapun dinikahkan. Kebahagian meliputi perjalanan pasangan ini mengarungi bahtera rumah tangga. Karena niatan Lillah Billah dan Fillah, halangan demi halangan hanya Allah tempat terbaik dalam meminta dan berlindung.

Dari pasangan suami-istri yang terjaga dari dosa dan maksiat, haram dan kemungkaran ini, kemudian lahir seorang anak shaleh teladan, yang bahkan dalam umur enam tahun telah hafal Al-Quran. Dialah Muhammad bin Idris Assyafi’i yang tak lain adalah Imam Syafi’i.
Itulah kesabaran dari ayah seorang ulama besar sepanjang masa ini. Sang ayah begitu sabar dalam menahan dan menghindari makanan yang haram, ibu yang selalu menjaga kehormatan dan kesuciannya maka Allah pun mengabulkan do’a nya, menganugrahkan keduanya seorang anak yang saleh.

Rabu, 08 Mei 2013

TATA CARA BERTAMU YANG ISLAMI

Menjalin hubungan silaturrahmi sangat dianjurkan didalam kehidupan bermasyarakat. Salah satu wujud dari jalinan silaturrahmi itu adalah bertamu. Ajaran Islam yang sudah lengkap dan sempurna, juga  mengatur tata cara bertamu. Etika bertamu itu antara lain dapat dilihat didalam Al Qur’an Surat An Nuur ayat 27, 28 dan 29.
 
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat”. (QS An Nuur 27).
 
Berdasarkan ayat Al Qur’an ini, sangat jelas, bahwa ada dua sikap yang perlu dilakukan bila bertamu. Yaitu meminta izin dan mengucapkan salam kepada penghuni rumah. Izin ini bukan basa basi.
Kadang terjadi, kita langsung masuk rumah setelah pintu dibukakan. Buka pintu tidak dapat dikatakan pemberian izin.
 
Jika kamu tidak menemui seorangpun didalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu ; 
‘Kembali (saja) lah’. 
Maka hendaklah kamu kembali. 
Itu lebih bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. ( QS An Nuur 28)
 
Dalam ayat berikutnya diperjelas, bahwa tanpa izin yang punya rumah, kita sebaiknya tidak masuk. Apalagi bila dikatakan ‘ kembali saja ‘, 
maka sebaiknya kita pulang.
 
“Tidak ada dosa atasmu memasuki rumah yang tidak disediakan untuk didiami, yang didalamnya ada keperluanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan”. ( QS An Nuur 29).
 
Ada pengecualian, tidak perlu izin dan mengucapkan salam jika memasuki rumah  yang tidak disediakan untuk didiami. Misalnya, berteduh di pos ronda ketika hari hujan, masuk mall, warung dan lain-lain.
Berpegang kepada etika dalam bertamu, patut jadi pegangan kita. Sebab, ini perintah Allah SWT didalam Al Qur’an. 
Apapun perintah Allah SWT, pasti memberi kebaikan untuk semua. 
Dalam kondisi normal, tidak perlu buang-buang energi mencari alasan untuk tidak melakukannya. 
 
Dari Abu Hurairoh ia berkata,  Rasululloh saw bersabda,
”Andaikan ada orang melihatmu di rumah tanpa izin, lalu engkau melemparnya dengan batu kecil lalu kamu cungkil matanya, maka tidak ada dosa bagimu.”
 
Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra., ia berkata: 
Aku sedang duduk dalam majlis orang-orang Ansar di Madinah lalu tiba-tiba Abu Musa ra. datang dengan ketakutan. Kami bertanya: Kenapa engkau? 
 
Ia menjawab:
Umar menyuruhku untuk datang kepadanya. 
Aku pun datang. Di depan pintunya, aku mengucap salam tiga kali tetapi tidak ada jawaban, maka aku kembali. Tetapi, ketika bertemu lagi, ia bertanya: 
Apa yang menghalangimu datang kepadaku? 
 
Aku menjawab:
Aku telah datang kepadamu. 
Aku mengucap salam tiga kali di depan pintumu. 
Setelah tidak ada jawaban, aku kembali. 
Sebab

Rasulullah saw. telah bersabda:
 
Apabila salah seorang di antara kalian minta izin tiga kali dan tidak mendapatkan jawaban, maka hendaklah ia kembali ( HR. Muslim)

 

 

 

Selasa, 22 Januari 2013

Album Bergambar

gambar status facebook
Gambar 1.1
Status Facebook Bergambar

gambar buat status facebook
Gambar 1.2
Status Facebook Bergambar
Status Facebook Bergambar
Gambar 1.3
Status Facebook Bergambar

gambar  Status Facebook
Gambar 1.4
Status Facebook Bergambar

gambar fb status
Gambar 1.5
Status Facebook Bergambar

facebook
Gambar 1.6
Status Facebook Bergambar
Foto: Allahumma shayyiban naafi'aa, Ya Allah, turunkanlah hujan yang membawa manfaat....

Foto: Malam minggu hujan turun lagi..

http://kata-bergambar.blogspot.com/2012/12/malam-minggu-hujan-turun-lagi.html

Foto: Silahkan di like, share, dan tag








Jumat, 21 Desember 2012

Sudahkah Kebaikanmu Itu Membalas Kebaikan Ibumu?

kalau hari ini kia menjadi anak yang baik yang soleh sudah pasti jasa mereka, adalah karunia allah yang diantaranya dari doa ke dua orang tua kita . ada sebuah kisah ada seorang anak yang sukses , di rektur dari sebuah perusahaan , punya segalanya . 
sianak : " bu, ibu mau apa lg , umroh , haji , mau keliling eropa ayo saya antar ibu tinggal bilang saya akan beri . asal apa yang saya lakukan bisa membalas kebaikan ibu kebaikan ibu ,
ibu tinggal bilang apa saja "

Ibu: " nak kebaikan ibu tidak akan bisa terbalas "

Anak: " saya punya apa saja , pasti bisa "

 Ibu: " tak bisa "

Anak : " bisa ! ! "

Ibu : " sudah lah malam ini km tdr sama ibu , seperti dulu km masih kecil tdr sama ibu "

Anak : " kalo itu bisa balas ke baikan ibu, baiklah " * tidurlah dia sama ibunya sebagaimana dia kecil dulu ,tengah malam ibu bangun anak masih tidur , jam 3 si ibu bangun mau tahajud anak masih tertidur pulas , di bagunkan anaknya,


 Ibu" nak bangun nak, sudah jam 3 ayo tahajut " , tetapi masih trtidur , ahirnya ibu bawa air di sembur kan air itu ke muka nya , akhirnya si anak terbangun dengan marah - marah . *

Anak : " ibu apa2 an klo membangunkan saya harus baik2 , kenapa harus di siram klo bangun muka basah , kasur basah , bantal basah , knp bu ? "

  Ibu: " itu lah nak memang kebaikan ibu tak terbalas kamu baru semalam saja ibu bangun kan sudah marah2 spti itu . ibumu bertahun2 lamannya mengurusmu ketika bayi tdk pernah marah . setiap malam ibu harus terbangun menggantikan popokmu karena kamu malam2 mengencingi tubuh ibu , setiap malam ibu bangun mengannti popok mengganti baju celanamu krn km membuang kotoran di depan ibu , tapi ibu tidak pernah marah bahkan ketika mengganti popokmu mengalir doa dari ibumu " yaa...allah jadikan kelak anak ini sukses , jadikan dia anak yg soleh jadikan dia anak yang berhasil "
Jadinya jabatan anak sekarang merupakan doa ibu sekian puluh tahun lalu , masih kah berpikir jasa ibu bisa terbalas?

Minggu, 25 November 2012

Kisah Pemuda Yang Angkuh


Ilustrasi/Admin (Shutterstock.com)Berapa banyak ilmu agama yang engkau ketahui, tetapi apa bila hanya menjadi ajang pameran kepintaran dan belum bisa mewujudkan dalam pelaksaksanaan, sebenarnya engkau belum mengetahui apa apa!
Alkisah, ada seorang pemuda yang jenius tertarik mempelajari agama-agama di dunia. Semua kitab suci dilalap habis sampai hafal diluar kepala.
Dengan kepintarannya ia merasa sudah paling tahu tentang agama. Begitu banyak yang kagum akan pengetahuannya itu.
Merasa sudah mumpuni dalam pengetahuan agamanya, ia selalu tertarik untuk memperdebatkannya dengan para pemuka agama.
Karena kejeniusan dalam menguasai teori-teorinya ini, banyak pemuka agama yang ia buat tak berkutik ketika berdebat.
Hal ini tentunya semakin membuat ia congkak dan semakin ingin berdebat dan selalu mencari lawan yang sepadan menurutnya.
Suatu hari datanglah ia ke sebuah padepokan dimana terdapat seorang Guru yang hidup sederhana.
Sebelumnya ia mendapat kabar kalau Sang Guru ini sangat bijaksana dan berilmu tinggi dalam bidang agama.
Namun saat pertama bertemu pemuda ini begitu meragukannya.
Dengan ramah si pemuda disambut dan dipersilakan duduk. Lalu pemuda ini dengan angkuhnya menjelaskan tentang kepandaiannya dalam menguasai ilmu agama dan maksud kedatangannya.
Dengan suara lemah lembut namun tegas.
Sang Guru berkata, “Maaf, anak muda, melihat sikap dan mendengar pembicaraanmu, saya memastikan sebenarnya engkau belum mengetahui apa-apa tentang agama. Oleh sebab itu saya tak mungkin bisa berdebat denganmu. Datanglah dilain waktu!”
Mendengar perkataan Sang Guru, si pemuda langsung emosi dan membentak dengan wajah memerah, “Ternyata Anda hanyalah seorang Guru yang bodoh. Semua kitab suci telah saya kuasai, dan Anda katakan saya tidak tahu apa-apa! Betapa tololnya Anda! Percuma saya datang kemari!!”
Dengan senyuman penuh kasih Sang Guru berkata lagi, “Anak muda, dengan sikap yang engkau perlihatkan saat ini, maka saya semakin yakin, engkau memang tidak mengerti apa-apa tentang agama! Engkau hanyalah orang pintar yang tersesat. Ilmu agama yang engkau kuasai hanya sampai ke otakmu saja, belum menyentuh hatimu!
Lihatlah dirimu yang penuh kesombongan, tidak tahu aturan, dan tiada kasih. Bukankah semua agama tidak mengajarkan demikian?”
Entah angin kesadaran datang dari mana.
Mendengar perkataan Sang Guru, seakan langsung menusuk kedalam hatinya dan seketika terdiam, menjadi sadar. Pemuda ini tertunduk malu dan perlahan dengan suara berbisik berkata,”Guru, Anda benar! Ternyata saya tidak mengetahui apa-apa tentang agama. Karena dengan mempelajari semua kitab suci, belum juga mendamaikan hati saya. Bahkan berbuat bertentangan dengan ajaran agama. Guru, ijinkanlah aku untuk belajar padamu!”
Dengan berlinang airmata, si pemuda berlutut dihadapan Sang Guru yang terus tersenyum.
Lalu Sang Guru memberikan wejangan.
“Anak muda, dengan engkau mengakui tidak mengetahui apa-apa, sesungguhnya engkau telah mengetahuinya!”
Semudah itukah untuk mendapatkan kesadaran?!

Kamis, 09 Agustus 2012

Malam Dan Siang

Nabi saw. Pernah memperingatkan ihwal waktu malam dan siang,

Malam itu panjang. Janganlah kau singkat dengan tidurmu.
Dan siang itu terang jangan kau gelapkan dengan dosa dosamu."

Sungguh indah perumpamaan yang di sampaikan rosulullah saw. kepada kita sebagai mana kita ketahui , waktu malam yang kita lewati terasa lebih panjang dari pada siang, meskipun secara fakta, siang dan malam untuk daerah katulistiwa tidak berbeda, yaitu sama sama 12 jam.

Waktu malam terasa panjang bagi orang yang tidak bisa tidur atau menjalani malam dengan sendirian.
Waktu bagaikan tidak beranjak.
Kehidupan berjalan seperti di penjara, terasa sangat lama.
Namun tidak demikian dengan orang yang tertidur, apa lagi tidurnya pulas.
Mungkin ia berangkat tidur jam 8 malam, bangun-bangun sudah jam 5 pagi. Waktu terasa singkat.

Oleh karena itu nabi saw. Memberikan nasehat.
Waktu yang terasa singkat itu bagi orang yang tidur agar di manfaatkan untuk ibadah.
Waktu yang sebenarnya lama buat orang yang tidak bisa tidur, di persingkat tidur.
Padahal banyak hal yangbisa di lakukan di malam hari terutama untuk ibadah.
Seorang penulis akan mudah mengungkapkan ide idenya di dalam tulisannya apa bila dalam kondisi tenang dan sunyi senyap. Malam hari adalah waktu yang paling tepat untuk menulis, mengarang, belejar, dan tentu ibadah.

Rosulullah dan para shabatnya gemar melakukan ibadah pada 1/3 malam terakhir.
Mereka melakukan shalat malam, berdzikir dan mambaca al-qur'an.
Kekhusuan mereka dalam ibadah di malam harimelebihi para pendeta maupun rahib.
Ungkapan yang sering kita dengar dari para sahabat dan generasi pertama ISLAM adalah mereka bagaikan singa di siang hari, karena selalu berjihat, dan di malam hari mereka menangis dan tekun beribadah melebihi kaum pendeta yang pekerjaannya hanya ibadah di dalam kuil saja.

Dengan peribadahan semacam itu, mereka hanya tidur malam kurang lebih 4-5 jam.
Banyak orang khususnya di perkotaan yang mempertanyakan pola tidur semacam itu jika mereka laksanakan. "Bagaimana bisa, kan kita kerja? Jangan-jangan kalau kita ibadah seperti rasulullah kita ngantuk di kantor dan tidak produktif."
Seorang profesor pernah mengkritik mahasiswanya yang mengantuk saat memberikan kuliah. Ketika di tanya,

Jawabnya" saya semalam sholat tahajjut pak " lalu,
Lalu bagaimana pula dengan teori kesehatan yang menyatakan tidur sehat sehari semalam selama 8 jam ?

Antara teori dengan kebiasaan rosulullah saw. Jelas tidak bertentangan karena faktanya memang berjalan selaras.
Rosulullah dan para sahabtnya memanfaatkan waktu malam dengan tidur hanya 4-5 jam.
Namun di siang hari mereka juga istirahat tidur siang sebentar.
Itulah yang biasa di sebut dengan QAILULAH,
Atau istirahat/tidur siang kurang lebih 1 jam. Setelah di teliti, ternyata kualitas tidur siang sama dengan 3 jam tidur malam. Secara kalkulasi, ujung-ujungnya 8 jam juga.

Sementara siang hari adalah waktu yang tepat beramal kebaikan yang berhubungan dengan orang lain.
Waktu yang tepat untuk berkarya dan memberikan manfaat untuk sesama.
Seorang yang demikian hidupnya menjadi terang. Beda. Dengan orang yang siang hari meskipun cuaca terang, ia gunakan bermaksiat.
Berlumuran dosa. Hidup orang seperti ini Gelap, tidak ada harapan untuk masa depannya.
Oleh karena itu jangan mengerjakan kejahatan di siang hari.

Dari rosululloh saw. Ini rasa rasanya tidak ada waktu untuk bermaksiat, malam hari digunakan untuk ibadah keada allah, siang harinya beramal untuk sesama.

Begitulah islam Mengatur waktu.